Makna kematian pada Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah Ciamis Jawa Barat

Farisa Fannaniya; Irfan Fahmi ; Anwar Supenawinata

Abstract

Pada umumnya setiap individu menghindari bahasan kematian karena terkait dengan adanya konflik psikologis yakni keinginan untuk terus hidup bertentangan dengan kenyataan harus menghadapi kematian sehingga cenderung takut terhadap kematian. Berbeda dengan kelompok Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah Ciamis Jawa Barat yang justru berbeda dan cenderung tidak memandang kematian sebagai hal yang menakutkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana makna kematian jamaah Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah Ciamis Jawa-Barat dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek adalah 4 orang dari jamaah dengan beberapa ketentuan tertentu. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dan observasi participant. Adapun guideline wawancara berdasarkan aspek-aspek makna kematian personal (personal meaning of death) dari Cicirelli (1998) yang diperluas dengan pemahaman Al-Ghazali (1963) yang terdiri dari death asafterlife, legacy, exitance, motivation, dan makna kematian diantara khauf dan raja’. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamaah tarekat Naqsabandiya Khalidiyah Ciamis Jawa Barat memaknakan kematian sebagai suatu jalan untuk memenuhi rasa cinta dan rindunya kepada Allah Swt dimana kematian menuntun subjek kepada kehidupan setelah kematian (afterlife, kematian dimaknai di antara khauf dan raja’, motivation. Faktor-faktor yang mempengaruhi makna kematian pada subjek yaitu religiusitas, usia, pengalaman yang berkaitan dengan kematian.

http://jpi.api-himpsi.org/index.php/jpi/article/view/46

Leave a Reply